PANEN RAYA POKTAN BAHARI KARYA SUKOLILO CETAK PRODUKTIVITAS PADI 10,8 TON/HA
SURABAYA — Di tengah gemerlapnya kawasan perkotaan, Kota Surabaya kembali membuktikan potensinya sebagai daerah lumbung pangan yang patut diperhitungkan. Hal ini tercermin dalam acara Panen Raya Padi Kelompok Tani (Poktan) Bahari Karya di Kelurahan Medokan Semampir Kecamatan Sukolilo hari Kamis, 3 September 2026. Bersama dengan BRMP Jatim yang dalam hal ini diwakili Hanik Anggraeni Dewi, S.P., Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan, Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian Provinsi Jatim, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kota Surabaya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, Kepala Kodaeral V, Danramil Sukolilo, Camat Sukolilo, Lurah Medokan Semampir, Lurah Keputih, Lurah Semolowaru, koordinator dan penyuluh pertanian se-BPP Balas Klumprik Kota Surabaya, tim teknis Kecamatan Sukolilo melaksanakan panen raya secara simbolis. Panen padi tersebut sukses mencatatkan hasil ubinan padi di atas rata-rata bersama dengan tim Badan Pusat Statistik (BPS), yakni mencapai 10,8 ton per hektare menggunakan varietas unggul Ciherang.
Capaian fantastis ini menjadi bukti nyata komitmen kuat pemerintah bersama para penyuluh pertanian dalam mendampingi petani secara intensif. Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Dr. Nurul Qomariyah, S.Sos., M.Si. mengungkapkan dalam sambutannya bahwa panen raya ini tidak hanya menjadi penyemangat bagi para petani senior, tetapi juga momentum penting untuk menanamkan optimisme bagi para penyuluh dan petani dalam meningkatkan produksi pertanian di masa mendatang.
Kepala Kodaeral V, Kolonel Laut (T) Adiyus Kurniazain, S.T., M.Pd., CIQar. mengungkapkan bahwa keberhasilan panen kali ini melalui proses perjuangan yang tidak mudah. "Selama masa penyiapan tanam padi, baru tiga hari setelah tanam sempat terkena banjir. Namun, berkat ketekunan, padi dapat diselamatkan dan kelompok tani ini bahkan mampu panen hingga 3 kali dalam setahun," ujar Adiyus di sela-sela acara sambutan panen raya.
Hilirisasi dan Ekosistem Pemasaran Digital: Dari Beras Premium hingga Urban Farming
Camat Sukolilo Muhammad Aries Hilmi S.STP, M.KP juga menyampaikan apresiasi setinggi tingginya karena wilayahnya selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Surabaya yang jarang diketahui publik luas, namun dapat meghasilkan panen padi di atas rata rata. Eksistensi kaum muda atau pejabat milenial kini sudah luar biasa dan banyak mengambil peran strategis. Dalam kesempatan tersebut, para petani milenial dan Generasi Z (Gen Z) ditantang untuk aktif bergerak, salah satunya melalui keterlibatan Karang Taruna serta menyukseskan program hilirisasi pangan yang dicanangkan Presiden.
Aspek hilirisasi produk pertanian di Sukolilo diharapkan semakin matang. Hasil panen beras premium dari Poktan Bahari Karya diupayakan tidak hanya dijual secara konvensional, tetapi dapat merambah jaringan modern, salah satunya bekerja sama dengan Supermarket Hoki Merr untuk penjualan sembako.
Guna memotong rantai pasok agar petani tidak kesulitan dalam kepastian penjualan dan perputaran uang, Pemerintah Kota Surabaya melalui Bapak Walikota telah menyediakan aplikasi digital Peken Surabaya. Melalui acara ini, seluruh pihak diimbau untuk saling support dan mewajibkan pembelian beras langsung produksi dari Kelompok Tani Bahari Karya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Nanik Sukristina, S.KM, M.Kes. menambahkan untuk tidak berhenti pada komoditas padi, area sekitar lahan pertanian juga dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan skala rumah tangga melalui pengembangan urban farming. Untuk saat ini di Kota Surabaya program urban farming lebih digiatkan melalui lomba penanaman cabai dan bawang merah.
Panen raya di Sukolilo ini membuktikan bahwa sektor pertanian perkotaan (urban agriculture) memiliki masa depan cerah. Dengan pertanian Kota Surabaya siap menghasilkan kualitas panen terbaik yang menjanjikan.
Inovasi Pengendalian OPT dan Teknologi Pertanian
Ketua poktan Bahari karya, Suhartoyo menyampaikan dalam kesempatan tersebut, para petani juga mengusulkan untuk mendongkrak produktivitas lanjutan, di antaranya permohonan bantuan alat mesin pertanian berupa satu unit combine harvester serta ketersediaan pupuk jenis SP-36 untuk musim tanam (MT) berikutnya. Menanggapi adanya potensi penurunan unsur hara, penggunaan pupuk Phonska juga tetap dioptimalkan.
Keberhasilan produktivitas hingga 10,8 ton/ha juga didukung oleh penerapan teknologi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang tepat. Reza, salah satu anggota Poktan bahari karya dan perwakilan Gen Z penggerak pembuatan Agen Pengendali Hayati (APH), menjelaskan bahwa penggunaan teknologi tepat guna memberikan hasil yang luar biasa.
"Jika meleset-melesetnya, kita bisa dapat 8 ton per hektare. Kami menggunakan bakteri Paenibacillus dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), di mana benih padi direndam menggunakan APH terlebih dahulu. Aplikasi secara rutin ini terbukti efektif mengendalikan OPT tanaman," jelas Reza.